Lokakarya

Dahulu kita sudah lazim menggunakan istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja, sebagai padanan istilah workshop, yang luar biasa tinggi frekuensi pemakaiannya. Nyaris semua kegiatan yang dihajatkan menghasilkan produk tertentu sekarang memakai istilah workshop, menggusur istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja.

Ini pertanda apa? Sikap bahasa Indonesia kita yang cenderung melemah? Kita makin tak percaya diri berbahasa Indonesia? Kita sedang terjangkiti snobisme, melihat segala yang asing lebih keren dan bermutu? Kedaulatan bahasa Indonesia semakin rapuh?

Kata teman-teman yang biasa menyusun program dan mengurusi administrasi kegiatan, kalau tidak digunakan istilah workshop, suatu kegiatan tak bisa dibiayai. Dengan kata lain, biar satu kegiatan bisa dibiayai hendaknya disebut workshop atau istilah lain yang memang disebut dalam aturan. Ini menandakan diksi dan kebenaran semantis tunduk pada kuasa administratif-finansial ketimbang kedaulatan bahasa, sikap bahasa, dan keapikan berbahasa?

Saya teringat uraian Wittgenstein ihwal rumput liar di taman bahasa. Apakah taman bahasa Indonesia kita sedang ditumbuhi rumput liar akibat kemalasan dan ketidakdisiplinan kita berbahasa Indonesia? Lebih jauh, apakah hal ini pertanda kesetiaan berbahasa kita merapuh?

 

[Djoko Saryono, status Facebook pada 7 Maret 2017 pukul 8:56]

Pitik

Sawijining wengi, Pakdhe ngendika:

Pitik neng daerah kene iki ya sembrana. Masak ta, aku nganggo montor rindhik-rindhik, de’e kuwi wis bener mlaku neng sisih kiwa dalan, e kok ngerti-ngerti de’e mlayu menengah, nyebrang arah tengen. Lha aku rak ya kaget.

Wah. Aku bingung, karepe de’e kuwi piye ta? Arep ngandhani ki aku ya ora dong carane. Kamangka umume pitik kene iki ya ngono kuwi. Sak jane wis bener mlaku neng sisih kiwa, nggon bahu jalan, kok ndadak nengah-nengah barang, ujug-ujug mlayu, ora nolah-noleh sikik, ngapa ta? Apa karepe arep njaluk telolet ya? Om telolet om… Ngono?

New Year’s Resolution

Come on!

1) Start drinking and doing drugs. And I mean a lot. Work up to hard stuff.
2) Start pissing people off on internet with rude comments. Really go for it.
3) Litter.
4) If science says it’s true, deny deny deny!
5) Make up stories and conspiracies and tell the world about them.
6) Road rage is my new motto.
7) To judge: everybody.
8) If someone is different then me in any way, really let them know they are weird.
9) Let people know my opinion is more important then theirs.
10) Complain more.

Rencana Mencuri Buku

—untuk Felix K. Nesi

Ada sejenis mabuk yang mengunjungi barung-barung. Melayang. Bercokol di empat cagak yang menyangga atap dedaunan. Dulu daun itu hijau. Sekarang sudah cokelat. Dulu tiang bambunya masih segar. Sekarang terasa melorot. Alas duduk teratak pun sudah tak lagi kekar. Sandarannya legam dihanguskan angin. Apakah ia menua?

“Kita ini menua! Coba kau bayangkan: dunia ini umurnya ribuan tahun, jutaan tahun, ribuan juta tahun … dan kita cuma diberi berapa? Paling banter 80 tahun. Delapan puluh tahun, Dok. Muhammad, 63 tahun. Okelah Adam sampai 900 tahun. Tapi berapa usia Yesus waktu disalib? Aduh, itu tidak sebanding dengan umur dunia ini.”

Hening sejenak. Angin permisi.

Lelaki itu tubuhnya agak berpasir, tetapi bersiteguh meneruskan perkataannya: “Dok, kita harus lakukan sesuatu.”

Seseorang yang dipanggil Kodok itu bertanya: “Apa rencanamu?”

“Astaga. Aku mengoceh panjang lebar sejak tadi, kau tidak baca judulnya, kah? Kau tidak membayangkan yang aku bilang barusan?” Read the rest of this entry

Kepenulisan

Kawan saya, Tegar namanya, bilang agar bagusnya saya jadi penulis saja. Alasannya adalah perjuangan Tatang Suhenra harus dilanjutkan, dan bahwa anak-anak kecil sekarang memerlukan nutrisi dari cerita-cerita semacam Megaloman Tumaritis. Ia–kawan saya itu–pun bicara tentang moral, anak, istri, petualangan, dan amal, dan bla bla bla, hingga kemudian berujar, “Mesti payu, ha mbok tenan, saiki gambar apik kui ora penting kok, ora masalah, sing payu saiki sing ketok-ketok nduwe konsep,” dan saya pun mesem dalam hati. Hihi.

To The Headwaters

Get gone
To the headwaters,
All the light
That has disappeared
Would revert back to that place

Peek among the shrubbery
Toward the wellspring
Gushed into four
Flowing
To the swish
That soothe your intact ribs

There are birds humming
Since the beginning
Of time,
The forlorn
Has never been addressed to you

(Pandak, Bantul, November 12, 2016)

Five Birds

Five birds steeping its wings.

The old man count the flutter
Sound of a crack
Leaves of a hands tree

“Tell me,” ask he
To the child on his lap:
“What number
That is arrived
At the cavity of your ears?”

Mum.

“Did you not see:
The knight Sungsang
Gaze upward afore the elephant?

“Many houses tumbled
For metals
Blackened
At the river
Over and over.”

The child,
Has not been able to speak,
Remain silent.

The birds averse to hush
The old woman
Not yet completed
Frizzle some cakes Cucur
While the old man
Collect the wings flick.

The winds idled. Perhaps then,
A piece of rune
Perfectly finished.

(Pandak, Bantul, November 12, 2016)