Jupe Sakit, Jupe Wafat

20017800_10155256949036355_2733504128491029745_o

Jupe Sakit

cahaya matahari
mudar
kabar datang dari burung
sedih: apa
yang kita tahu adalah
apa yang tak kita mengerti

puisi:
warna muram di kertas halaman

 

(Pandeyan, 14 April 2017)

Read the rest of this entry

Advertisements

Pura-pura Mau Pijat, Perampok Menyetrum Karyawan Spa dan Bawa Kabur Kalung Emas

aku ingin tidur tenang
tubuhku lelah
mataku penuh belalang dan kunang-kunang

hujan menundukkan jalan
jadi sungai
sementara kayuku bukan lagi
perahu
dan aku ingin lupa
berpikir tentang hulu keindahan

pulang
dengan isi hati yang persis
warna biru,
lantai segiempat lepas
dari api,
atau payung
di bawah langit nan basah

kau pun, manisku
memejamlah
sekarang
turunkan tirai rambutmu,
kebaskan jantungmu dari tampu

lekas,
lekaslah
kau hanya
perlu mengatupkan alis

jangan sibuk menghitung
bulu-bulu domba
saat cinta ini aku lekatkan
pada gemetarmu yang bergaung-gaung

biar tuhan
membuang seluruh dosa
dan keluh kesah

biar surga jadi semayam
bagi detakmu
yang ruang rumpang
bagi hidup
dan mimpi yang patah-patah

aku ingin terpejam
dan terlahir
lagi
dalam garis-garis cerah
dan asmara yang akan selalu mudah

 

(Glagahsari, 2017)

Pertandingan Dortmund Versus Monaco Mengalami Penundaan Akibat Insiden Bom yang Meledak di Dekat Bus Pemain Borussia

di ruang tengah yang penuh dengan remah
remang-remang,
kita duduk
menghitung nyamuk dan menunggu
lapangan menjadi
hijau dan cerita berenang masuk dari jendela

di luar,
gerimis tak sedang berdetak-detak
angin membawa es batu
lantas membiarkan malam hari meratap
rasa gemetar
yang membabar kabar hunus letusan

dan di sembilan puluh menit yang mundur
kita berdoa

(entah kenapa, kegilaan tak begitu saja berakhir
sekalipun telah semakin banyak
kosakata yang terhunjuk
menuju angkasa)

namun barangkali
apa yang kita harap bakalan lekas tewas
tanpa karangan bunga kembang
dan belasungkawa
sebelum sempat menyaksikan sayap kelelawar
menyusup ke alam tidur pulas

 

(Pandeyan, 2017)

Demi Malam

demi malam yang mungkin
tak terulang kembali

aku enggan tidur
sebab yakin
engkau bukan adegan
dalam mimpi

seribu engkau
beribu-ribu engkau

sinarmu
menyelinap lewat
jendela, terbias
pada sebuah noktah

di antara sepasang sujud,
biji-biji tasbih,
atau aroma tembakau
yang mengakhiri waktu sahur

dan aku pun berhitung:
tiga puluh
sembilan, seratus lima,
tujuh ratus tujuh puluh delapan

seribu engkau
beribu-ribu engkau

dan aku enggan tidur
sebab yakin
engkau bukan mimpi
di dalam mimpi

sinarmu
mengetuk kamar
di hari yang ganjil
agar aku tak bersembunyi lagi

 

(Mergangsan, 3 Juni 2017)

 

Bungker

Binatang Kafka di Bungker (Sebuah Ringkasan)

Judul: Der Bau (Bungker)

Di bawah sofa adalah tempat paling nyaman yang dipilih Gregor Samsa. Dari lorong gelap itu ia bisa bebas bergerak dan mengamati siapa saja. Fantasi ruang gelap Kafka berlanjut pada saat ia tinggal di Berlin bersama Dora Diamant selama 11 bulan dengan karyanya berjudul Bungker (Der Bau).

Pada prosa panjang sebanyak 43 halaman ini Kafka memakai bentuk Aku-Pencerita. Secara jumlah halaman dan bentuk mirip monolog-interior mahapanjang sekitar 40-an halaman dalam Ulysses karya James Joyce, yang tak terdapat koma sama sekali, hanya ada dua titik. Sebuah igauan tokoh Ibu Molly Bloom tergeletak di ranjang, sambil membayangkan pacarnya Boylan, sementara suaminya sendiri Leopold Bloom berbaring di sebelahnya.

Jika Joyce dalam menutup novel Ulysses memakai igauan kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan stream of consciousness, Kafka menutup hidupnya memakai ego tertinggi tokoh Aku mengeksplorasi tenaga dan pikirannya di sebuah lubang gelap di bawah tanah. Keterpurukan Kafka di Berlin karena frustrasi akan penyakitnya dan faktor finansial membuatnya seolah ia sedang hidup di sebuah ruangan gelap bernama Bungker. Read the rest of this entry

Malaikat, 8

Lemparlah bisik hujan, doa kami
Sampaikah di sudu pendengaranmu?

“Berhenti membaca. Istirahatlah. Rindu hanyalah mimpi panjang yang ditulis dengan huruf lawas dan kata-kata yang segera berkemas. Akan datangkah engkau? Tidak, aku tahu. Aku mengerti.”

Ampuni, ampunilah kami.

“Engkau lelah.”

Tidak bolehkah kami menatapmu? Dari selambu kabut
Mustahil kami mengerti
Bahwa pelangi
Akan melengkungkan kersik akar ilalang

Tidak sahkah angan-angan kami?
Lupakah Tuhan?

Perkenalkanlah ketenangan, kendati tak akan ada
Calak setelah bunyi petir
Berakhir,
Sekalipun pemenang dan pecundang
Harus ditanam pada kubur yang sama-sama tanpa desir

“Aku beri engkau
Diam. Aku perdekat rasa sakit ke kayu ambinmu, ke layu asinmu, ke sayu anginmu. Cuaca mengubahmu, seperlahan bait yang enggan dinyanyikan daun-daun terbiru, namun hatimu berbeda dengan benih akik. Maka aku beri engkau
Setali kebisuan. Aku hibahkan bagimu: kematian dan gigil yang malas mengenal singkatan.”

 

(Bjong Coffee, 13 Oktober 2016)

Hujankah yang Menjebakmu di dalam Kamar?

sebotol air menggantung di kabel setrum, bergoyang ceria
jendelamu sedikit membuka

lapar dan mulas
adalah perpaduan yang tidak terlalu pas
untuk jam-jam yang seharusnya bisa lebih bergegas

persoalannya bukan cinta—semoga
kau tak keliru—namun gerumbul mendung di langit sana
yang selalu kau bayangkan tengah berduka

dan buah keterlambatan, sesuatu
yang kerap menjadikan cemas dan gelisah itu
belum tentu

mau menerjemahkan gerimis-gerimis
agar kau membaca pelannya, lebih sabar dari gigil teralis

 

(Malang, 28 April 2016)