Demi Malam

demi malam yang mungkin
tak terulang kembali

aku enggan tidur
sebab yakin
engkau bukan adegan
dalam mimpi

seribu engkau
beribu-ribu engkau

sinarmu
menyelinap lewat
jendela, terbias
pada sebuah noktah

di antara sepasang sujud,
biji-biji tasbih,
atau aroma tembakau
yang mengakhiri waktu sahur

dan aku pun berhitung:
tiga puluh
sembilan, seratus lima,
tujuh ratus tujuh puluh delapan

seribu engkau
beribu-ribu engkau

dan aku enggan tidur
sebab yakin
engkau bukan mimpi
di dalam mimpi

sinarmu
mengetuk kamar
di hari yang ganjil
agar aku tak bersembunyi lagi

 

(Mergangsan, 3 Juni 2017)

 

Advertisements

Bungker

Binatang Kafka di Bungker (Sebuah Ringkasan)

Judul: Der Bau (Bungker)

Di bawah sofa adalah tempat paling nyaman yang dipilih Gregor Samsa. Dari lorong gelap itu ia bisa bebas bergerak dan mengamati siapa saja. Fantasi ruang gelap Kafka berlanjut pada saat ia tinggal di Berlin bersama Dora Diamant selama 11 bulan dengan karyanya berjudul Bungker (Der Bau).

Pada prosa panjang sebanyak 43 halaman ini Kafka memakai bentuk Aku-Pencerita. Secara jumlah halaman dan bentuk mirip monolog-interior mahapanjang sekitar 40-an halaman dalam Ulysses karya James Joyce, yang tak terdapat koma sama sekali, hanya ada dua titik. Sebuah igauan tokoh Ibu Molly Bloom tergeletak di ranjang, sambil membayangkan pacarnya Boylan, sementara suaminya sendiri Leopold Bloom berbaring di sebelahnya.

Jika Joyce dalam menutup novel Ulysses memakai igauan kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan stream of consciousness, Kafka menutup hidupnya memakai ego tertinggi tokoh Aku mengeksplorasi tenaga dan pikirannya di sebuah lubang gelap di bawah tanah. Keterpurukan Kafka di Berlin karena frustrasi akan penyakitnya dan faktor finansial membuatnya seolah ia sedang hidup di sebuah ruangan gelap bernama Bungker. Read the rest of this entry

Malaikat, 8

Lemparlah bisik hujan, doa kami
Sampaikah di sudu pendengaranmu?

“Berhenti membaca. Istirahatlah. Rindu hanyalah mimpi panjang yang ditulis dengan huruf lawas dan kata-kata yang segera berkemas. Akan datangkah engkau? Tidak, aku tahu. Aku mengerti.”

Ampuni, ampunilah kami.

“Engkau lelah.”

Tidak bolehkah kami menatapmu? Dari selambu kabut
Mustahil kami mengerti
Bahwa pelangi
Akan melengkungkan kersik akar ilalang

Tidak sahkah angan-angan kami?
Lupakah Tuhan?

Perkenalkanlah ketenangan, kendati tak akan ada
Calak setelah bunyi petir
Berakhir,
Sekalipun pemenang dan pecundang
Harus ditanam pada kubur yang sama-sama tanpa desir

“Aku beri engkau
Diam. Aku perdekat rasa sakit ke kayu ambinmu, ke layu asinmu, ke sayu anginmu. Cuaca mengubahmu, seperlahan bait yang enggan dinyanyikan daun-daun terbiru, namun hatimu berbeda dengan benih akik. Maka aku beri engkau
Setali kebisuan. Aku hibahkan bagimu: kematian dan gigil yang malas mengenal singkatan.”

 

(Bjong Coffee, 13 Oktober 2016)

Hujankah yang Menjebakmu di dalam Kamar?

sebotol air menggantung di kabel setrum, bergoyang ceria
jendelamu sedikit membuka

lapar dan mulas
adalah perpaduan yang tidak terlalu pas
untuk jam-jam yang seharusnya bisa lebih bergegas

persoalannya bukan cinta—semoga
kau tak keliru—namun gerumbul mendung di langit sana
yang selalu kau bayangkan tengah berduka

dan buah keterlambatan, sesuatu
yang kerap menjadikan cemas dan gelisah itu
belum tentu

mau menerjemahkan gerimis-gerimis
agar kau membaca pelannya, lebih sabar dari gigil teralis

 

(Malang, 28 April 2016)

The Blue of Our Love

No, don’t hide the love of you
Behind clouds that which black
For heaven is still as it used to
Fine and blue,
As the blue of my loves for you

O, dear
Though has been a long time
Amour helds in heart
I won’t change the blue of our love
Just believe, dear

I poem your name
I made it as a melody
I carved tenderness in my reverie
As love’s tessera

The blue of our love, of us two
Might be eternal as though skies blue
My feelings is none but your feelings
Let it be as one, in worse and better
We’re together, happily ever after

#

Ini dari lagu dangdut. Judulnya “Birunya Cinta”. Saya iseng menerjemahkannya. Meskipun, jujur saja, saya tidak tahu siapa yang menyanyikannya. Wakaka.

Lokakarya

Dahulu kita sudah lazim menggunakan istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja, sebagai padanan istilah workshop, yang luar biasa tinggi frekuensi pemakaiannya. Nyaris semua kegiatan yang dihajatkan menghasilkan produk tertentu sekarang memakai istilah workshop, menggusur istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja.

Ini pertanda apa? Sikap bahasa Indonesia kita yang cenderung melemah? Kita makin tak percaya diri berbahasa Indonesia? Kita sedang terjangkiti snobisme, melihat segala yang asing lebih keren dan bermutu? Kedaulatan bahasa Indonesia semakin rapuh?

Kata teman-teman yang biasa menyusun program dan mengurusi administrasi kegiatan, kalau tidak digunakan istilah workshop, suatu kegiatan tak bisa dibiayai. Dengan kata lain, biar satu kegiatan bisa dibiayai hendaknya disebut workshop atau istilah lain yang memang disebut dalam aturan. Ini menandakan diksi dan kebenaran semantis tunduk pada kuasa administratif-finansial ketimbang kedaulatan bahasa, sikap bahasa, dan keapikan berbahasa?

Saya teringat uraian Wittgenstein ihwal rumput liar di taman bahasa. Apakah taman bahasa Indonesia kita sedang ditumbuhi rumput liar akibat kemalasan dan ketidakdisiplinan kita berbahasa Indonesia? Lebih jauh, apakah hal ini pertanda kesetiaan berbahasa kita merapuh?

 

[Djoko Saryono, status Facebook pada 7 Maret 2017 pukul 8:56]

Pitik

Sawijining wengi, Pakdhe ngendika:

Pitik neng daerah kene iki ya sembrana. Masak ta, aku nganggo montor rindhik-rindhik, de’e kuwi wis bener mlaku neng sisih kiwa dalan, e kok ngerti-ngerti de’e mlayu menengah, nyebrang arah tengen. Lha aku rak ya kaget.

Wah. Aku bingung, karepe de’e kuwi piye ta? Arep ngandhani ki aku ya ora dong carane. Kamangka umume pitik kene iki ya ngono kuwi. Sak jane wis bener mlaku neng sisih kiwa, nggon bahu jalan, kok ndadak nengah-nengah barang, ujug-ujug mlayu, ora nolah-noleh sikik, ngapa ta? Apa karepe arep njaluk telolet ya? Om telolet om… Ngono?