Category Archives: Tukas

Daehan Minguk Manse

DMM

Saya bayangkan Mas Tengsoe Tjahjono bercakap dengan mahasiswinya di Korea Selatan. “Kalau di Indonesia, pacaran sampai melakukan hubungan suami-istri, pasti sudah dapat cap negatif.”

“Kalau di sini, ya biasa saja, Pak,” sahut mahasiswinya.

Mahasiswa di sana—kata Mas Tengsoe—pacaran ya pacaran, bahkan hampir tidak ada yang berniat menikah. Kalau pertama kali orang Indonesia ke sana, ya tentu ada shock culture, karena menyewa hotel atau pun berciuman di tempat umum, hal itu biasa. Meski begitu, bukan berarti setiap orang bebas berhubungan dengan siapapun, mereka tetap memilih, tidak dengan sembarang orang dan di sembarang tempat.

Saya bayangkan tiga bayi—Daehan, Minguk, Manse—yang tingkah-polahnya dijadikan sebuah acara televisi. Di Indonesia, acara itu cukup tenar di kalangan anak kuliah. Bayi-bayi lucu. Ngomong lucu. Meloncat-loncat lucu. Dan kelucuan DMM sering menjadi hiburan tatkala stress mengerjakan tugas kuliah. “Orang Korea (Selatan) gemar sekali nonton itu. Terutama perempuan. Yang laki-laki, biasanya nonton baseball, bukan sepak bola,” kata Mas Tengsoe.

Acara bayi-bayi tersebut memang dibuat agar orang-orang Korea Selatan—terutama yang berusia muda—tertarik untuk menikah dan punya anak. Angka kelahiran di Korsel sangat rendah. Kalau Indonesia kesulitan menekan populasi penduduk, Korea Selatan justru bingung bagaimana menambah jumlah warganya. Acara DMM termasuk program televisi yang mendukung niat pemerintah Korsel untuk meningkatkan pertumbuhan penduduk.

Nah, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah—kalau beberapa teman saya yang menonton kelucuan bayi-bayi di acara tersebut, kadang berpikir untuk punya anak—apakah cara tersebut cukup manjur di Korea Selatan?

Entahlah. Boleh saya ke Korsel dan cari pacar di sana?

Advertisements

Sebut Saja Sejarah

Kemarin, 13 April 2015, saya menonton dua film. Mungkin karena sedang frustasi.

Yang pertama adalah Fast & Furious 7, sebuah film yang sejak awal saya prediksi akan berujung pilu. Saya menontonnya di bioskop Dieng.

Seperti biasa, film ini diawali dengan mobil-mobil yang digunakan untuk balapan, celana dalam warna-warni, dan pantat wanita. Dominic Toretto, sang lakon, berkendara dengan Letty menuju sebuah tempat yang dinamakan Race Wars. Read the rest of this entry

Teori Han

Halaman BNI46 cabang Universitas Merdeka Malang. Di situ tuh, Han bilang: konsep ekonomi paling bagus itu seperti yang dilakukan orang mabuk. Mereka urunan, iuran, patungan—ada yang seribu, dua ribu, sepuluh ribu; terserah—untuk beli 1,5 liter moke atau pun sebotol anggur merah. Tapi saat minum, mereka bagi rata. Satu sloki demi satu sloki. Bergiliran. Semua senang.

Tapi orang kini sudah kadung malas baca pemikiran Mohammad Hatta.

John Lennon

War is Over! poster

Aih … John Lennon.

Saya sering bergurau dengan kawan: siapa saja yang meng-“cover” nyanyian John Lennon, pasti terdengar lebih bagus. Suara John Lennon jelek. Coba saja dengar dia genjrengan sambil nyocot “this-ism, that-ism … ism, ism, ism, ism …” di lagu Give Peace a Chance. Asu tenan, Dab!

Mungkin karena kuping manusia diciptakan dengan baik dan untuk mendengar yang baik. Sehingga ketika ada suara tak membahagiakan, telinga pun jadi tidak nyaman. Lha seringkali kita coba kabur dari ketidak-asyikan tersebut, akan tetapi bunyi-bunyi njancuki macam itu justru terus mengiang.

Asimetri bunyi. Suara John Lennon sumbang, tidak merdu didengar. Tetapi kesumbangan itu ternyata sumbang, memberikan sesuatu, yang lain daripada yang lain, kepada yang lain. Agaknya ia paham bahwa kita sebenarnya lebih peka terhadap hal-hal tak mengenakkan.

Lalu saya mereka adegan saat malam sebelum John Lennon modar. Ia bilang ke Yoko Ono, “Sayang, besok aku mati.” Dan bojonya itu menyahut, “Benarkah?”

Kemudian mereka berciuman.

 

NB: Tulisan ini mbrojol setelah nonton bareng film “The U.S. vs John Lennon” di Kedai Tjangkir13, Cengger Ayam, pada 24 Oktober 2014. Terimakasih buat Andaami Sony yang sudi ikut nongkrong, Mas Aji yang bos Kedai, Mas Tatok dan Mbak Caroline, serta Tjangkiner alias para penikmat Tjangkir.

Soal Tepuk Tangan

???????????????????????????????????

Tentu saja siapapun boleh tepuk tangan. Karena tepuk tangan adalah hak. Tapi tepuk tangan pun merupakan kesadaran. Kesadaran tentang saat yang pas untuk bertepuk, serta kapan untuk tidak melakukannya.

Hal ini mirip dengan ketika kita nonton konser unplugged (alat musik tidak dicolok ke saluran listrik), misalnya Orkestra—lebih-lebih pada jaman dulu. Dalam konser tersebut penonton pun tidak boleh ada suara—tepuk tangan, HP, bisikan, dll.—sebelum musik benar-benar selesai dan konduktor berbalik menghadap penonton. Mestinya begitu, termasuk ketika di tengah lagu ada permainanyang wow. Sebab alat-alat dalam orkestra yang segitu banyaknya tidak disambungkan ke pengeras elektronik. Bunyi dari alat tersebut dikeraskan dengan memanfaatkan gaung yang tiba dari pantulan dinding gedung. Ya, ruangan besar itu.

Nah… setelah segala yang disampaikan rampung, silakan bertepuk tangan.

–A.R.

Suket

slamet-gundono“Sikap sabar itu koleterol, tensi, denyut nadi yang normal; tubuh segar. Enjoy… tapi kenapa jarang ingin menempuhnya?”

Tulis Slamet Gundono, dalang wayang suket, di Twitter-nya pada 12 September. Kini, ah… semoga terbaik selalu dialamatkan kepada beliau. Selamat jalan, Kangmas.

Kenapa Harus Kondom?

Barangkali aneh memang: kondom kok dibagikan di hampir tiap persimpangan jalan. Bayangkan. Sewaktu lampu merah menyala, ada orang yang mengetuk pintu mobil atau menyapa dari tepi sepeda motor, “Pak/Bu, silakan kondomnya.”

KondomTapi barangkali aneh pula jika pembagian kondom disebut sebagai pelegalan zina atau perusakan moral atau apalah. Hanya saja, tanggapan seperti itu lebih bisa dimaklumi—penjaga moral umumnya risih dengan hal itu. Dekat-dekat hari itu, seorang teman di FB sempat membikin status: “Zina yang jelas-jelas merusak moral didukung, poligami yang jelas-jelas sah dihinakan seperti hewan #absurdlogic”. Namun demikain, apa dengan ‘sah’ kita bisa mencegah HIV? Mau taruhan? :3 Read the rest of this entry