Category Archives: Kutip

Luka

“Kalau ada seorang yang menderita luka datang kepada seorang politikus, maka dipukullah luka itu, hingga orang yang punya luka itu akan berteriak kesakitan dan lari tunggang langgang. Sedang kalau ia datang pada seorang penyair, luka itu akan dielus-elusnya hingga ia merasa seolah-olah lukanya telah tiada. Sehingga tidka seorang pun dari kedua macam orang itu berusaha mengobati dan menyembuhkan luka itu. Bagaimana pendapatmu, Anakku?”

 

(Danarto – Godlob)

Advertisements

Mata Pelajaran

Mata pelajaran waktu SD, dari kelas empat sampai kelas enam, seharusnya hanya 4+1 :
1. Dasar-dasar Filsafat
2. Dasar-dasar Sastra
3. Dasar-dasar Seni
4. Dasar-dasar Eksak
+
1. Agama

Kemudian di jenjang-jenjang selanjutnya adalah penurunan, perluasan, pendedahan secara lebih matang dan detail-komplek, pengembangan dari dasar-dasar tersebut di atas.

Begitu menurut Bung Rif Faruq Sumandar, seorang penyair kelahiran Madura, dalam status facebooknya. Cek saja: https://www.facebook.com/mohammad.faruq3/posts/1034387819918637

Bahkan

“Bahkan Al-Qur’an, yang dianggap oleh para ahli tasawuf sebagai perkataan Tuhan, tidak memiliki kapasitas untuk menerangkan esensi Tuhan. Sebagaimana pendapat salah satu sufi: mengapa menghabiskan waktu membaca surat cinta di hadapan sang kekasih yang menulisnya?”

(2 Ramadhan 1436 H)

Pesan Ince

Posted on

Ini yang dituliskan Ince Muh Firman dalam status bertanda-waktu 6 Mei 2015 pukul 5:26 WIB :

sebagai seorang sarjana yang dicetak dengan cara berkhayal.
ada pesan yang akan kusampaikan:

jika bertemu orang sepertiku
kau boleh menanggalkan semuanya
kenangan juga pakaianmu.

Agaknya kita memang harus menentang keras rahasia, Bung!

Adz

KumparanMencomot status Mas Ach. Dhofir Zuhry: “Semakin sering kita menggosok kedua ujung besi dengan magnet, maka besi itu sepenuhnya akan menjadi magnet, begitu pula manusia dengan nilai-nilainya.”

Merdeka

logo_hut_ri_ke_69

Saya tuliskan Galatia 5:13.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Mengutip Maya

TitisanIa diajarkan untuk memusatkan kesadaran pada lingkaran kehidupan yang tak akan selesai: penciptaan, pemeliharaan, penghancuran. Tugas manusia adalah yang di tengah-tengah; maka hanya Wishnu yang lahir sebagai manusia dari zaman ke zaman di antara tiga dewa itu.

*dari novel “Maya”, karya Ayu Utami, halaman 76