Category Archives: Copas

Bungker

Binatang Kafka di Bungker (Sebuah Ringkasan)

Judul: Der Bau (Bungker)

Di bawah sofa adalah tempat paling nyaman yang dipilih Gregor Samsa. Dari lorong gelap itu ia bisa bebas bergerak dan mengamati siapa saja. Fantasi ruang gelap Kafka berlanjut pada saat ia tinggal di Berlin bersama Dora Diamant selama 11 bulan dengan karyanya berjudul Bungker (Der Bau).

Pada prosa panjang sebanyak 43 halaman ini Kafka memakai bentuk Aku-Pencerita. Secara jumlah halaman dan bentuk mirip monolog-interior mahapanjang sekitar 40-an halaman dalam Ulysses karya James Joyce, yang tak terdapat koma sama sekali, hanya ada dua titik. Sebuah igauan tokoh Ibu Molly Bloom tergeletak di ranjang, sambil membayangkan pacarnya Boylan, sementara suaminya sendiri Leopold Bloom berbaring di sebelahnya.

Jika Joyce dalam menutup novel Ulysses memakai igauan kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan stream of consciousness, Kafka menutup hidupnya memakai ego tertinggi tokoh Aku mengeksplorasi tenaga dan pikirannya di sebuah lubang gelap di bawah tanah. Keterpurukan Kafka di Berlin karena frustrasi akan penyakitnya dan faktor finansial membuatnya seolah ia sedang hidup di sebuah ruangan gelap bernama Bungker. Read the rest of this entry

Advertisements

Lokakarya

Dahulu kita sudah lazim menggunakan istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja, sebagai padanan istilah workshop, yang luar biasa tinggi frekuensi pemakaiannya. Nyaris semua kegiatan yang dihajatkan menghasilkan produk tertentu sekarang memakai istilah workshop, menggusur istilah lokakarya, sanggar kerja, dan/atau bengkel kerja.

Ini pertanda apa? Sikap bahasa Indonesia kita yang cenderung melemah? Kita makin tak percaya diri berbahasa Indonesia? Kita sedang terjangkiti snobisme, melihat segala yang asing lebih keren dan bermutu? Kedaulatan bahasa Indonesia semakin rapuh?

Kata teman-teman yang biasa menyusun program dan mengurusi administrasi kegiatan, kalau tidak digunakan istilah workshop, suatu kegiatan tak bisa dibiayai. Dengan kata lain, biar satu kegiatan bisa dibiayai hendaknya disebut workshop atau istilah lain yang memang disebut dalam aturan. Ini menandakan diksi dan kebenaran semantis tunduk pada kuasa administratif-finansial ketimbang kedaulatan bahasa, sikap bahasa, dan keapikan berbahasa?

Saya teringat uraian Wittgenstein ihwal rumput liar di taman bahasa. Apakah taman bahasa Indonesia kita sedang ditumbuhi rumput liar akibat kemalasan dan ketidakdisiplinan kita berbahasa Indonesia? Lebih jauh, apakah hal ini pertanda kesetiaan berbahasa kita merapuh?

 

[Djoko Saryono, status Facebook pada 7 Maret 2017 pukul 8:56]

Disiplin

Disiplin itu penting, tapi rasa-rasanya kok terlampau muluk. Yang lebih penting bagi seorang penulis, saya yakin adalah pemaafan diri. Sebab tulisanmu akan selalu mengecewakanmu. Kemalasanmu akan selalu mengecewakanmu. Kau sering bersumpah: “Aku akan menulis satu jam setiap hari” Lalu kau tak melakukannya. Kau akan merenung: “Duh, aku kok pekok, aku gagal, aku asyem tenan.” Tapi kalau kau bersikeras terus menulis setelah serbuan kekecewaan itu kau tak hanya akan menjadi berdisiplin tapi juga memaafkan dirimu sendiri (suatu kebajikan yang datang dari tempat yang indah dan sarat keberanian dan cinta yang lembut)
(Elizabeth Gilbert, diterjemahkan dengan bebas oleh Tia Setiadi).

Foto

foto

Sumber: kompas.com

Foto korban dan foto kejadian itu berbeda. Foto korban bisa diambil di rumah sakit, sedang foto kejadian hanya bisa diambil di lokasi terjadinya sebuah peristiwa. Dalam foto korban, keadaan orang—luka fisik terutama—menjadi fokus, sedang dalam foto kejadian, gambaran mengenai sebuah peristiwa—di mana, melibatkan siapa, kemungkinan penyebabnya—yang coba direkam. Foto korban mungkin berguna untuk mahasiswa kedokteran dan pengidap sadomasokhisme. Adapun foto kejadian sangat penting untuk menunjukkan validitas sebuah berita. Mungkin penampakannya mengerikan atau tidak etis bagi sebagian orang, namun sangat penting dalam jurnalistik.

Saya copas dari sini: https://www.facebook.com/malkan.junaidi/posts/1075767535799551

Lintang

ini imajinasi Lintang soal bagaimana memberi makan harimau.
“harimaunya dikasih makan ayam, tapi ayamnya mama masak dulu biar enak. terus kalau ayamnya sudah matang, aku naik pohon bawa ayamnya, langsung aku kasih makan. kenapa di pohon, supaya aku nggak digigit.”

…fiction vs realty? why not Both? [subject : Lintang’s Logic]…

dari: https://www.facebook.com/augmented.yen/posts/1020673501297144?pnref=story

Puisi

Bermula dari status Mas Malkan Junaidi:

kata pak Tengsoe, “Puisi yang baik bukan karena bahasanya rumit, namun karena pembaca mampu menangkap pikiran dan merasakan keindahannya…”

kata saya: untuk memiliki kemampuan demikian, seorang pembaca musti memiliki kompetensi tertentu, pengetahuan dan pengalaman tertentu. jika tidak, maka puisi sederhana macam kebanyakan milik chairil atau sapardi akan tetap terlihat rumit, terasa nonsense, dan berat untuk dicerna dan dinikmati.

Komentar Mas Tengsoe Tjahjono:

Akibatnya jumlah penyair meningkat berlipat-lipat, jumlah pembaca pun makin tiada. Selama ini yang aku lihat pembaca puisi ya para penyair dan kawan-kawannya sesama penyair sebab untuk jadi pembaca puisi syaratnya begitu berat: harus memiliki kompetensi tertentu.

Mas Malkan:

pak Tengsoe Tjahjono: (1) bukanlah hal aneh terutama di era pragmatis ini kalau puisi kehilangan pembaca. produk ‘puisi yang rumit’ tak bisa serta-merta dijadikan kambing hitam. kebijakan pemerintah dalam memberi arah pada sistem pendidikan turut pula memberi andil. (2) “Akibatnya jumlah penyair meningkat berlipat-lipat” ngapunten, akibat dari apa? apa yang mengakibatkan jumlah penyair meningkat?

Mas Tengsoe:

Akibat dari meniadakan pembaca pada saat menulis. Menulis puisi ya menulis saja. Dibaca atau tidak, bukan hal yang penting. Pemerintah tentu tak akan ikut campur pada level proses kreatif. Saya sudah banyak kali bertemu para guru, tak mudah menyalahkan guru ketika ia tak bisa memahami puisi.

Mas, ini mungkin yang saya rasakan. Bisa jadi njenengan tidak merasakan. Memang sangat subyektif. Mungkin tugas kita sekarang ini mendidik pembaca. Namun, tentu tak mudah dilakukan…

Mas Malkan:

(1) “Menulis puisi ya menulis saja. Dibaca atau tidak, bukan hal yang penting.” ini merupakan bentuk peniadaan pembaca, bukan? (2) “Pemerintah tentu tak akan ikut campur pada level proses kreatif.” masak sih pak? bunyi RPP pelajaran bahasa indonesia ada yang gini lo… “Siswa mampu menulis minimal 3 bait puisi yang berisi keindahan alam dengan memperhatikan diksi dan rima secara individu”

Sumber: https://www.facebook.com/malkan.junaidi/posts/1011009172275388 (disalin-tempel dengan beberapa penyesuaian penulisan)

Cak Nun

Cak Nun dengan tegas menguraikan:

Wis. Anggaplah aku ini kafir… fir…
Terus opo hakmu?
Utawa hak wong liya terhadap aku?
Iki menyangkut martabat manusia!

“Mengenai benar kafir tidak orang itu
Wilayahnya Alloh.
Urusan sesrawung antar manusia
Adalah aja nuding-nuding wong.
Itu merendahkan dan menyakiti hatinya.

“Sedang di dalam Islam
Sangat dilarang menyakiti hati orang lain.

Wis anggaplah misalnya Gus Dur itu antek Yahudi.
Terus kalian mau apa?

“Apakah kalian yakin
Bahwa saya muslim?
Dari mana kalian tahu saya muslim?
Kalau ternyata saya hanya akting?

“Kalau darah saya halal,
Wis gek ndang dipateni!
Dan okeh sing kudu dipateni!

“Allah saja masih memiliki ruang
Barangsiapa mau beriman maka berimanlah,
Barangsiapa mau kufur
Silakan kufur.

“Maka
Kepada orang yang kita anggap sesat
Atau kufur
Mbok wis didongakke wae
Supaya diberi hidayah oleh Allah.

Read the rest of this entry