Category Archives: Bait

To The Headwaters

Get gone
To the headwaters,
All the light
That has disappeared
Would revert back to that place

Peek among the shrubbery
Toward the wellspring
Gushed into four
Flowing
To the swish
That soothe your intact ribs

There are birds humming
Since the beginning
Of time,
The forlorn
Has never been addressed to you

(Pandak, Bantul, November 12, 2016)

Five Birds

Five birds steeping its wings.

The old man count the flutter
Sound of a crack
Leaves of a hands tree

“Tell me,” ask he
To the child on his lap:
“What number
That is arrived
At the cavity of your ears?”

Mum.

“Did you not see:
The knight Sungsang
Gaze upward afore the elephant?

“Many houses tumbled
For metals
Blackened
At the river
Over and over.”

The child,
Has not been able to speak,
Remain silent.

The birds averse to hush
The old woman
Not yet completed
Frizzle some cakes Cucur
While the old man
Collect the wings flick.

The winds idled. Perhaps then,
A piece of rune
Perfectly finished.

(Pandak, Bantul, November 12, 2016)

Izzah

ini teluk yang jembar, sayang
untuk kita sisiri sembari berbincang
tentang pasir dan cinta. lihat mereka:
orang-orang bersorai, persis anai-anai
bermain di muka aum ombak
rambut kita pun kibar bendera merah
di akar perahu nelayan. perlukah
kita selfie berdua? atau bertanya,
pada iyup manakah para kusir memarkir
kuda cikarnya? seandainya kita menghanyut
ke ujung laut pun, ini tetap teluk lapang
sayang, untuk kita bersanjang mesra
dan rebah sebelum detak jam berpulang

(Pantai Teleng Ria, Pacitan, 3 Juli 2016)

Sepasang Kelahiran

Sepasang kelahiran

Terpisah titik

 

Yang satu:

Dilepaskannya kepak sayap. Gemerisiknya selalu mencari angin agar kelak mendarat pada tengah yang tepat. Ia ingat: ciuman gang gelap, keledai yang disebutnya kedelai, dan orang-orang yang pernah bahagia dengan damai. Kemudian dibunyikannya siul daun. Lagu minor. Maka matahari pun tampak dari atas.

 

Satunya:

Mata bolanya mega meneja. Dalam hitungan kejap, kelopaknya memejam, pelan mengucapkan selamat malam, tidur dan bermimpilah indah. Basahlah hujan. Tetapi ombak yang digeraikannya sebagai uap akan senantiasa pulang. Senantiasa pulang.

 

Yang tak terkata

Hidup saling beserbuk

 

(Malang, 24-25 Desember 2015)

Di Dalam Kaca

Berbahagialah seperti warna merah yang menjauh darah
Telah sungging ranum senyum, telah angguk wajah
Sebagai sulih ukara dari lengkung reluk sepasang sabit
Yang menyalakan matamu, di malam sehenti derit

 

(Kapus, 2 November 2015)

Pendek-pendek

DSC05785

SENIN LEGI, 30 SELA 1948 EHE
–Alin

berenang ke arah selatan: cerah semakin langit
persis mencatat kerinduan dan lancip

sumping

larit

yang karib gulungan benang. burung-burung
peluru, sebelarak jatuh depan matamu

 
(Lembah Dieng, 14 September 2015)

 

NYANYIAN TENTANG BUNYI TEROMPET YANG MEMBUATMU MENULIS LAGU ITU MENGGERAKKAN TANGANKU MENGETIK SAJAK INI
–Han

sepenggal doa sebelum tidur dilukis
atas kain
bergegas ke arah dinding kamar
menggores coret
terbit yang membingkas istirahmu

 
(Galeri Teratai, 16 September 2015)

 

KEBAKARAN

Dari kamar tidurku: daun-daun yang terbakar
Terus terbang itu, tampak merupa kembang api

 
(Riske Salon, 21 September 2015)

 

PACET
–sepasang, Calvin & Fifin

apakah datang, apakah pulang
ketika senja tegas berpamitan?
mati harus angin, lagu dewa-dewi
sepanjang perjalanan menanjak trawas
dan putaran yang berebut
pada kelok belok tajam, tenang menentang

 
(Mojokerto, 23 September 2015)

 
KEPANIKAN MEDINA

Tenangkanlah dadamu, sebab puisi memang tak diwajibkan menyimpan hujan dan hidup lempang dan hawa yang menggores putih pelataran. Kasih bertebar setiap saat. Longoklah jendela. Kasih bersebar seriap harakat.

 
(Kapus, 28 September 2015)

 
DI LUAR KACA

selain hijau, sebilah telapak berusaha menepikan asap
kendatipun manis memang ditakdirkan lekat-lekat
padanya, napas yang tak bergandengan pulang
dan lembut sebelum malam, di luar kaca

 
(Kapus, 12 Oktober 2015)

Adegan Waska Sakit, Warung Kopi Bu Mida

Adegan Waska Sakit
—disebabkan Teater EGO

balok-balok disusun kembali demi perih
selapik
diceritakan atau tidak, kematian
bukan
sesuatu yang ditanggapi dengan gaduh
sirine,
topeng, peluit phobia, di luar gelondang
bukan
dengan bersitatap cakap anggaris garis
melainkan
berembuk mempermainkan bidang, setelah
kenyataan
agar jangan tidur, ikat erat kencang
tubuh
dan lepaskan pengatup mustaka
karena
tak lagi hidup soal nabi baik hati
bajingan
adalah bajingan, seolah ludah-ludah
mengarah
mimpi ibu yang kecewa, mayat yang
hilang
lengkap lenyap, senyap mengucap tanya
mana
bangkai yang menembak keras kepalanya?
brengsek
tak perlu merapukan patahan lampu redup
benderang
redup kembali, segalanya telah tata
demikian
rupa, membentuk denyut keterkejutan
menjadi
pertunjukan yang bercerap sendiri

(Aula Gedung D FEB UB, 2015)

Warung Kopi Bu Mida

bunyi kanak-kanak tak terlihat sedang berjuang memejamkan malam. kuning truk berhenti jauh dari gerbang, sebuah titik di mana singa sepasang terduduk tenang. satu tersenyum. satu menganga, mungkin menguap atau menguarkan aroma sendawa. tetapi dua seragam setia bersantai menikmati kelam yang terhidang.

ada suara burung merak, penyair yang tak berhasrat memekarkan ekornya, dan hijau angin. kenapa hijau? toh daun yang merah, yang kuning, yang cokelat, yang miring dan muram dan tak berwarna pun ikut terhembus.

mungkin ada yang berceritera tentang tuhan atau laut yang menerima sampah-sampah perjalanan. ada gemetar. ada lelah. ada hangat yang seolah biru. kenapa biru? matamu. pandang yang menerbitkan air liur dari langkah bersejingkat. salang yang menertibkan segala macam ingat yang tak lekat-lekat. menunggu. diam terdiam seperti bulu tertancap di bawah atap.

(Taman Rekreasi Kota Malang, 2015)