Category Archives: Apapun

Pitik

Sawijining wengi, Pakdhe ngendika:

Pitik neng daerah kene iki ya sembrana. Masak ta, aku nganggo montor rindhik-rindhik, de’e kuwi wis bener mlaku neng sisih kiwa dalan, e kok ngerti-ngerti de’e mlayu menengah, nyebrang arah tengen. Lha aku rak ya kaget.

Wah. Aku bingung, karepe de’e kuwi piye ta? Arep ngandhani ki aku ya ora dong carane. Kamangka umume pitik kene iki ya ngono kuwi. Sak jane wis bener mlaku neng sisih kiwa, nggon bahu jalan, kok ndadak nengah-nengah barang, ujug-ujug mlayu, ora nolah-noleh sikik, ngapa ta? Apa karepe arep njaluk telolet ya? Om telolet om… Ngono?

New Year’s Resolution

Come on!

1) Start drinking and doing drugs. And I mean a lot. Work up to hard stuff.
2) Start pissing people off on internet with rude comments. Really go for it.
3) Litter.
4) If science says it’s true, deny deny deny!
5) Make up stories and conspiracies and tell the world about them.
6) Road rage is my new motto.
7) To judge: everybody.
8) If someone is different then me in any way, really let them know they are weird.
9) Let people know my opinion is more important then theirs.
10) Complain more.

Rencana Mencuri Buku

—untuk Felix K. Nesi

Ada sejenis mabuk yang mengunjungi barung-barung. Melayang. Bercokol di empat cagak yang menyangga atap dedaunan. Dulu daun itu hijau. Sekarang sudah cokelat. Dulu tiang bambunya masih segar. Sekarang terasa melorot. Alas duduk teratak pun sudah tak lagi kekar. Sandarannya legam dihanguskan angin. Apakah ia menua?

“Kita ini menua! Coba kau bayangkan: dunia ini umurnya ribuan tahun, jutaan tahun, ribuan juta tahun … dan kita cuma diberi berapa? Paling banter 80 tahun. Delapan puluh tahun, Dok. Muhammad, 63 tahun. Okelah Adam sampai 900 tahun. Tapi berapa usia Yesus waktu disalib? Aduh, itu tidak sebanding dengan umur dunia ini.”

Hening sejenak. Angin permisi.

Lelaki itu tubuhnya agak berpasir, tetapi bersiteguh meneruskan perkataannya: “Dok, kita harus lakukan sesuatu.”

Seseorang yang dipanggil Kodok itu bertanya: “Apa rencanamu?”

“Astaga. Aku mengoceh panjang lebar sejak tadi, kau tidak baca judulnya, kah? Kau tidak membayangkan yang aku bilang barusan?” Read the rest of this entry

Kepenulisan

Kawan saya, Tegar namanya, bilang agar bagusnya saya jadi penulis saja. Alasannya adalah perjuangan Tatang Suhenra harus dilanjutkan, dan bahwa anak-anak kecil sekarang memerlukan nutrisi dari cerita-cerita semacam Megaloman Tumaritis. Ia–kawan saya itu–pun bicara tentang moral, anak, istri, petualangan, dan amal, dan bla bla bla, hingga kemudian berujar, “Mesti payu, ha mbok tenan, saiki gambar apik kui ora penting kok, ora masalah, sing payu saiki sing ketok-ketok nduwe konsep,” dan saya pun mesem dalam hati. Hihi.

Disiplin

Disiplin itu penting, tapi rasa-rasanya kok terlampau muluk. Yang lebih penting bagi seorang penulis, saya yakin adalah pemaafan diri. Sebab tulisanmu akan selalu mengecewakanmu. Kemalasanmu akan selalu mengecewakanmu. Kau sering bersumpah: “Aku akan menulis satu jam setiap hari” Lalu kau tak melakukannya. Kau akan merenung: “Duh, aku kok pekok, aku gagal, aku asyem tenan.” Tapi kalau kau bersikeras terus menulis setelah serbuan kekecewaan itu kau tak hanya akan menjadi berdisiplin tapi juga memaafkan dirimu sendiri (suatu kebajikan yang datang dari tempat yang indah dan sarat keberanian dan cinta yang lembut)
(Elizabeth Gilbert, diterjemahkan dengan bebas oleh Tia Setiadi).

Jika Cinta Memang Buta, Semoga Kita Masih Mampu Mendengar

aku ingin jatuh cinta lagi: menjadi lembaran kertas, tempatmu menuliskan fantasi atau membuat gores merah dan hijau senja, menyampaikan detak-detak dadamu. sah saja kau meremas, menyobek, meremah demi meresapkan airmu, atau jika gigil terdingin menyalakan salak, mendekatkanku dengan api, agar segala hangatmu kembali.

 

(Malang, 1 Juni 2016, 02:49)

Pemberian

Terkadang suatu pemberian terasa begitu istimewa bukan sebab materinya mahal, tetapi dikarenakan oleh siapa pemberinya. Sandek bertuliskan, “Hati-hati di perjalanan.” atau “Selamat makan ya…” akan berkesan lain apabila pengirimnya berbeda, misalnya, dari sahabat, dari ibu, atau dari kekasih.

Pemberian kesempatan oleh Tuhan, untuk mengenal atau mencintai seseorang, kendati Ia tak memberi lebih dari itu pun—misal, kesempatan untuk berdekatan maupun untuk memiliki—akan terasa sangat berharga jika melihat hal tersebut sebagai karunia-Nya. Tak pernah ada pemberian yang remeh ketika itu berasal dari Yang Maha.

Seorang bijak pernah berujar: ia yang tak bisa mensyukuri yang sedikit, tak bisa mensyukuri yang banyak. Semoga kita termasuk di antara mereka yang mampu bersyukur.