Category Archives: Alinea

Bermain Layang-layang

lly

Ibu bilang, Kakek sudah tidur. Padahal kan kakek sudah berjanji akan membuatkanku layang-layang. Kata Kakek, Kakek bisa membuat layang-layang mirip harimau, anjing, pesawat, ikan, ular naga, dan kuda laut. Kuda laut itu kuda yang hidupnya di laut. Aku tidak mau membuat layang-layang bentuk begitu. Aku mau membuat bentuk ikan, pasti keren kalau siripnya panjang, tapi kuda laut pasti jelek. Kuda kok di laut, pasti banyak minum air, pasti perutnya kembung. Nanti layang-layangku melembung. Ih…

Aku mau bilang ke Kakek, kalau aku sudah hapal lagu layang-layang. Waktu membuat layang-layang segiempat, Kakek menyanyikan lagu itu. Bermain, berlari, bermain layang-layang. Bermain kubawa ke tanah lapang, hati gembira dan riang. Ibu bilang, aku harus mandi, setelah itu berangkat ke rumah Kakek. Aku sangat senang.

Di dekat rumah Kakek ada lapangan. Kalau sudah ada azan, lapangannya dipakai bermain sepak bola oleh orang-orang yang sudah besar. Mereka sudah sekolah dan bisa lari lebih cepat. Kalau mereka bermain layang-layang, pasti layang-layangnya bisa terbang tinggi sekali. Aku bertanya pada Ibu, “Kalau nanti Kakek yang mengajak bermain layang-layang, boleh, ya?” Ibu berjongkok memelukku sambil menangis. Ibu memang sering aneh begitu. Sering Ibu tidak membolehkanku bermain layang-layang.

(2016)

Bidadari

Saya tengah merasa bosan ketika sesosok bidadari terjatuh persis empat setengah meter di hadapan saya. Bajinguk. Tubuhnya sebentar lunglai dan beberapa helai bulu sayapnya berguguran seperti daun-daun pada peristiwa pohon meranggas demi kemarau. Namun percayalah, ia tetap masih bercahaya. Parasnya lembut. Matanya semilir. Gusti. Saya tak berani menjabarkan isi hatinya, atau bagaimana irama detak jantungnya, atau seperti apa keadaan perkakas tubuhnya setelah baru saja terjatuh.

Bidadari itu menghampiri saya. Satu, dua, tiga langkah awalnya gontai sedikit, namun dengan segera ia dapat menegakkan pijaknya. Ia bersayap, kenapa ia tidak terbang saja? Selongsong setan pocong yang diikat saja bisa terbang. Oh, aduh. Jangan-jangan sayapnya tidak atau belum sanggup mengepak lagi setelah terjatuh. Parahkah lukanya? Siapa pun, atau apa pun, segera sembuhkanlah bidadari itu! Read the rest of this entry

Tiga

Tiga

PUSING

Agak sulit menjawab pertanyaan ini: otakku yang sedang keram atau bumi lah yang memang berputar-putar? Tapi tubuhku yang melemas ini seperti memberi petunjuk, bahwa penyebab pening kali ini adalah karena aku tak menemukanmu lagi setelah kau kubunuh berkali-kali dalam mimpiku.

(Riske, 9 April, 21:14)

BURAM

Jam dua.
Atau sebelas. Read the rest of this entry

À la Prochaine, 2013

jamSebelum malam pertama, tiap orang akan menyanyikan kembang api dengan nada tinggi. Tujuh malam, jam telah siap menghitung mundur. Bejibun mata melesat dari tugu pusat kota, ke arah langit yang berkedip-kedip merah, hijau, kuning, biru, dan ungu. Ada harap di sana: kelabu tak ikut memeriahkan.

“Tapi bisakah kita bertemu lagi?”

 

(Malang, first day in 2014)

Lima Tajuk

DERAJAT

Bangsat. Tengah sawah, tengah hari. Kereta berhenti miring 28,1499o tepat 260 meter sebelum Wlingi. Di sudut kanan gerbong terdepan terdengar gemeretak. Wow, gemeretak lagi. Penumpang yang tidur segera terbangun. Tergeragap. Seorang bapak yang tidak botak mendengarkan HP, lelaki berbando bercakap dengan perempuan berjaket ijo, ada yang celingak-celinguk, pasang tampang suram konyol, menahan kantuk, atau bosan melihat jendela. Kalau-kalau rubuh suatu nanti atau 18 detik lagi, kita pasti bukan cuma mati, pasti Tuhan pun kita hantui sebab pulang adalah sebagai sesosok mimpi.

JAM

Satu kali dua kali tiga kali kita menoleh ke arah jam. Jarum detiknya memberat dan angka-angkanya seperti terlalu diam seakan sedang kecapaian setelah telah bertahun-tahun menunjukkan waktu ke setiap mata. Mata yang akan melihatnya setiap waktu. Bahkan saat tengah malam atau dini hari, ketika kita terbangun sejenak dari mimpi bertemu gadis seksi. Mata yang selalu takjub. Mata yang bisa saja rekat di detik keempat, menempel pada jam seakan diberi lem pralon atau plester. Tuhan, kenapa kita bisa berharap?

Read the rest of this entry

Kangen

Tumben sekali kau tak datang pada hembusan asap yang mengabut dari tiga batang rokok terakhir yang kunyalakan. Biasanya kau tanpa mengetuk langsung muncul begitu saja. Ya di depanku. Kemudian aku akan bicara denganmu tapi orang selainku akan bilang aku sableng. Cuma, kau tak nongol kali ini. Aneh betul. Ayolah, kemari. Munculah pada asap yang aku sebul kali ini, hilangkan oksigen di sekitarku, dan buat aku mati lagi.

Yk, 12 Ag. 2013

Luyut

LuyutSeakan diatur, malam datang menyetubuhi tempatku rehat. Istirahat dengan kaki setengah mengangkang dan tubuh lurus. Wajahku bersandar pada dekap bibirmu tipis dan tahi lalat pada sudut. Berkedut. Dan demi denting, sebentar lagi, tempat tidur itu memeluk erat…

(Malang, 4 Januari 2013)