Rencana Mencuri Buku

—untuk Felix K. Nesi

Ada sejenis mabuk yang mengunjungi barung-barung. Melayang. Bercokol di empat cagak yang menyangga atap dedaunan. Dulu daun itu hijau. Sekarang sudah cokelat. Dulu tiang bambunya masih segar. Sekarang terasa melorot. Alas duduk teratak pun sudah tak lagi kekar. Sandarannya legam dihanguskan angin. Apakah ia menua?

“Kita ini menua! Coba kau bayangkan: dunia ini umurnya ribuan tahun, jutaan tahun, ribuan juta tahun … dan kita cuma diberi berapa? Paling banter 80 tahun. Delapan puluh tahun, Dok. Muhammad, 63 tahun. Okelah Adam sampai 900 tahun. Tapi berapa usia Yesus waktu disalib? Aduh, itu tidak sebanding dengan umur dunia ini.”

Hening sejenak. Angin permisi.

Lelaki itu tubuhnya agak berpasir, tetapi bersiteguh meneruskan perkataannya: “Dok, kita harus lakukan sesuatu.”

Seseorang yang dipanggil Kodok itu bertanya: “Apa rencanamu?”

“Astaga. Aku mengoceh panjang lebar sejak tadi, kau tidak baca judulnya, kah? Kau tidak membayangkan yang aku bilang barusan?”

“Eh, Babi…”

“Ayolah! Kita mati cepat, Dok. Kita belum sempat pelajari seluruh kunci gitar yang ada di dunia. Belum sempat katakan cinta pada penjaga kasir minimarket yang terlihat dadanya. Dia membungkuk waktu mengambil kembalian. Dan dari lubang leher baju timnas Jerman yang dipakainya, bongkahan itu membusung. Bayangkan! Kita belum baca semua buku di dunia ini. Belum sempat menangkap semua bandit istana negara. Belum ini. Belum itu. Belum anu. Sementara dunia tetap berputar, nah kita mati, Dok. Dunia ini benar-benar kejam.”

“Babi, cerewet kau! Beberkan rencanamu!” Kodok mengaum. “Tak sedikitpun kau singgung rencana atau yang sejenis itu sejak tadi!”

“Aih, iya sih.” Babi gelagapan. Babi mengambil sebatang rokok dengan gegas. Babi bicara lagi, “Begini, jangan curi gadget. Laptop lima tahun sudah rusak, HP Android bobrok dua tahun. Nah, buku bagus dibaca sampai puluhan tahun. Novel-novel Pramoedya, tulisan-tulisan Soekarno, karya-karya orang bule… duh, buku kuno begitu sekarang harganya mahal. Jadi kita harus mencuri buku. Mula-mula, kita ke perpustakaan. Dulu orang-orang keren itu ke perpustakaan untuk curi buku. Anjing, bagaimana menurutmu?”

Seorang Anjing diam saja.

#

Seperti yang dijanjikan, tiga makhluk itu berada di halaman perpustakaan.

Senin pagi adalah waktu tersibuk bagi umat manusia. Mereka berjubel di jalanan. Ada yang hendak sekolah, mahasiswa pergi ke kampus, bekas ciuman pacar malam minggu kemarin masih ada di leher, karyawan merapikan berkas-berkas yang belum beres. Ada yang sempat-sempatnya menulis “I hate Monday” pada status jejaring sosialnya. Ada yang mau mencuri.

“Kalian yakin ini hari Senin?” Babi bertanya.

“Positif!” jawab Anjing mantap.

“Ya. Ini Senin,” tukas Kodok pelan. Ia kembalikan ponsel ke dalam kantong.

Si Babi tersenyum.

“Kalian ambil buku banyak-banyak. Tapi jangan terlalu banyak, nanti ketahuan,” berkata Babi. “Masukkan ke dalam jaket. Jaga baik-baik! Aku nanti pura-pura pinjam, lalu mengobrol panjang lebar dengan petugas perpustakaan.”

“Baiklah,” tukas Anjing.

“Kalau begitu, kita berpisah,” kata Kodok.

“Tepatnya berpencar!” sahut Babi.

“Ya.”

“Hmm…” Anjing menggumam.

Babi pilih mengoceh lagi, “Jangan buru-buru. Pastikan buku yang kalian ambil itu berkualitas bagus!”

#

Teratak.

“Pokoknya jangan terburu-buru. Jangan berisik. Di perpustakaan, kita harus tetap tenang,” tegas Anjing. Dikepulkannya asap yang tampak putih karena malam begitu gelap.

“Ya, itu yang terpenting,” sahut Babi. “Anjing, kau ini merokok terus. Itu berbahaya. Kata dokter, asap rokok itu bikin sesuatu, mungkin sel atau syaraf atau entah apa, jadi tersumbat. Asap-asap itu membulat, jadi semacam bola atau dada penjaga kasir minimarket, lalu menyumbat sesuatu dalam tubuhmu. Bisa bikin impo…”

“Kata siapa?” potong Anjing.

“Ya kata dokter lah. Tadi aku ketemu dokter di warung makan. Badannya besar. Pakai jas warna putih, tapi kemudian dilepas karena gerah. Dia bawa macam-macam nama kimia. CIM, CD, CO, atau apa itu, dan aku tidak paham. Akhirnya dia simpulkan, merokok itu menyumbat sesuatu dalam tubuh. Kalau itu aku paham. Aduh, menyumbat…”

“Tapi rokok sekarang tidak bikin impoten,” kata Anjing.

“Tetap saja!” Babi ngotot.

“Tidak. Kau coba beli rokok banyak-banyak, warna gambarnya dominan merah, menyebabkan ini-itu. Tapi tidak ada gambar impoten.”

“Anjing, aduh, kau ini. Jangan bercanda. Ini bukan cerita lucu-lucuan. Ini serius. Dokter tadi juga serius.”

“Tapi, serius, kadang aku mikir juga,” tiba-tiba Kodok menyahut.

Anjing dan Babi menoleh.

“Kira-kira bisa atau…” ujar Kodok. “Merokok terus begini, bisa atau tidak aku nanti jadi Bapak? Babi, bagaimana lanjutan cerita doktermu tadi?”

Babi diam. Anjing hanya mengepulkan asap putih. Kodok menunggu sebuah jawaban. Suasana jadi hening dan menyebalkan.

#

“Pokoknya diam,” kata Babi. “Tenang. Senyap. Benar-benar diam.”

Tiga makhluk itu tinggal tujuh langkah menuju pintu perpustakaan. Hari siang. Orang lalu lalang. Umat manusia benar-benar sibuk. Ada matahari, tapi sinarnya terhalang pohon-pohon, sehingga sampai ke bumi sebagai hangat. Ada bulan dalam bola mata seorang gadis yang lewat dan Babi menyapanya, “Hai, Mbak.”

Si gadis merasa jijik, bahkan najis, ketika tahu Babi mengikutinya. Empat langkah sebelum pintu, Babi menoleh ke arah dua lainnya, memberi kode: “Masuk, Tolol! Berpencar!”

#

“Masuk akal, bukan?”

“Hm, ternyata…” kata Anjing.

“Apa kau ternyata-ternyata. Memang begitu, dokter tadi masukkan telapak tangan ke saku celananya, mengambil rokok kretek, nyalakan, dan menghisapnya dalam-dalam. Nah aku tanya, lho Bapak kok ngerokok? Nah dia bilang, ‘ya, saya merokok, tapi saya juga tahu akibatnya’. Itu keren!”

“Itu munafik. Dia bilang jangan, tapi dia lakukan juga.”

“Lho bukan munafik, Anjing. Lagipula, dia tidak bilang jangan merokok. Dia cuma jelaskan akibat-akibatnya. Dan karena dia dokter, merokok itu jadi semacam pemberontakan atau revolusi, wuih… kau tahu revolusi, kan?”

“Ya. Babi…”

“Babi apa? Revolusi itu, begini…”

“Yang jelas ketika kita berbuat, kita mesti mesti tahu akibatnya,” potong Kodok. Dua lainnya menoleh, lepas dari pertengkaran.

Setelah semenit yang diam, Babi berkata, “Ya itu maksudku, Dok. Anjing ini orangnya susah paham. Sini, kemarikan rokokmu!”

“Kenapa minta rokok segala?” tanya Anjing.

“Aduh, Tuhan. Anjing ini pelit sekali.”

“Pokoknya jangan! Nanti sesuatu dalam tubuhmu bisa tersumbat!”

#

“Hai, Mbak,” kata Babi. “Nama saya Babi. Dan otak saya tersumbat gara-gara menatap matamu.”

Rupa-rupanya Babi mengikuti gadis itu sampai dekat sebuah rak. Gadis itu diam. Perutnya mungkin mendadak mual tapi ia tetap memilah buku. Babi pura-pura memilih buku. Sementara itu, Anjing dan Kodok pergi ke bagian lain dari perpustakaan.

Setengah jam.

Satu jam.

Satu jam, lebih tigapuluh menit. Babi mengirim sandek, “Kalian cepat keluar, aku sudah antri di bagian peminjaman.”

“Pinjam, Mas?” tanya petugas perpustakaan.

“Iya, Mbak. Boleh? Nama saya Babi. Dan otak saya tersumbat gara-gara menatap matamu.”

Petugas itu tersenyum.

“Mbak, jangan tersenyum. Saya tambah blank.

“Mas, jurusan apa sih?” tanya petugas perpustakaan.

“Saya suka Einstein. Kata Einstein, waktu itu tidak ada. Duh, time doesn’t exist. Jadi siang dan malam itu sebenarnya tidak ada, Mbak. Jam satu, jam tiga, itu juga tidak ada. Manusia membuat skala, lalu terjebak sendiri ke dalamnya. Memang bumi berputar. Tetapi, ya sudah biar berputar. Tidak ada ukuran waktunya. Sementara dia berputar, nah kita ini mati. Wuih, keren sekali. Saya suka Einstein. Mbak suka es krim cokelat?”

“Saya punya gigi sensitif,” jawab petugas perpustakaan itu.

“Astaga. Jangan sampai kedinginan, Mbak. Jangan duduk di bawah AC. Itu tidak bagus buat kesehatan lho. Apakah bukunya sudah?”

“Sudah, Mas. Silakan.”

“Ya. Terimakasih, Mbak. Jangan lupa berbahagia.”

#

“Pokoknya buat mereka bahagia!” kata Babi.

Ada sejenis mabuk yang tersisa di antara tiang barung-barung. Rokok hampir habis, tapi angin tetap mengepulkan dinginnya. Malam ternyata gelap.

“Bahagia bagaimana?” tanya Anjing.

“Aduh, Anjing, mereka itu sebenarnya bodoh. Mau amat mereka dikekang. Coba tengok. Astaga. Membaca buku saja pakai aturan. Harus diam. Kembalikan dalam waktu satu minggu.”

“Tapi bagaimana kalau mereka bahagia dengan itu?” sahut Kodok.

“Ya kita buat mereka lebih bahagia.”

“Dengan?”

“Kita harus curi buku di perpustakaan itu. Jangan pinjam. Kalau pinjam dan tak dikembalikan, nama kita tercatat. Dan kita mesti membayar denda. Seratus perak per hari. Kabarnya, denda bakal naik kalau rupiah melemah. Makanya kita curi saja. Pinjam itu buat modus. Nanti biar aku yang pura-pura pinjam. Aku kembalikan. Kalian ambil buku yang bermutu tinggi.”

Kodok manggut-manggut.

Anjing juga manggut-manggut. “Lalu?”

“Aduh, Anjing! Tentu saja kita baca bergantian. Sampai tuntas. Sampai paham benar. Lalu kita bikin sesuatu dari situ. Kita cetak jadi buku. Lalu sumbangkan ke perpustakaan itu. Sekarang sedang tren tempat nongkrong ditaruh buku-buku. Aih, banyak kafe begitu. Kita sumbang ke mereka juga. Kalau ada yang menyumbang buku, mereka pasti senang. Lebih bahagia. Menurut kalian, bagaimana rencana ini?”

(Malang, 2014-2016)

 

Advertisements

One response »

  1. Reblogged this on Desember and commented:
    this is one of my favorite writings of yours! ❤

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: